Senin, 28 Desember 2015

Model Kurikulum

Macam-macam Model Kurikulum dalam pembelajaran


A. The Administrative Model Model pengembangan kurikulum ini merupakan oleh paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administratif atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi. Dengan wewenang administrasinya, administrator pendidikan__apakah dirjen, atau kepala kantor wilayah pendidikan dan kebudayaan __membentuk suatu komisi atau tim pengarah pengembangan kurikulum.
B. The Grass Roots Model Model pengembangan ini merupakan kebalikan dari model pertama. Inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum bukan datang dari atas, tetapi dari bawah, yaitu guru-guru atau sekolah. Model pengembangan kurikulum yang pertama digunakan dalam sistem pengelolaan pendidikan/ kurikulum yang bersifat sentralisasi. Sedangkan model grass roots akan berkembang dalam sistem pendidikan yang bersifat desentralisasi. Dalam model pengembangan yang bersifat grass roots, seorang guru/ sekelompok guru atau keseluruhan guru di suatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan kurikulum yang bersifat grass roots mungkin hanya berlaku untuk bidang studi tertentu atau sekolah tertentu, tetapi mungkin pula dapat digunakan untuk seluruh bidang studi pada sekolah atau daerah lain. Pengembangan kurikulum yang bersifat desentralistik dengan model grass roots memungkinkan terjadinya kompetisi dalam eningkatkan mutu dan sistem pendidikan, yang pada gilirannya akan melahirkan manusia-manusia yang lebih mandiri dan kreatif
D. The Demonstration Model Model demonstrasi pada dasarnya bersifat grass roots, yaitu datang dari bawah. Model ini diprakarsai oleh sekelompok guru atau sekelompok guru bekerjasama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Model ini umumnya berskala kecil, hanya mencakup satu atau beberapa sekolah, satu komponen atau mencakup keseluruhan komponen kurikulum. Karena sifatnya ingin mengubah atau mengganti kurikulum yang ada, maka pengembangan kurikulum ini sering mendapat tantangan dari pihak-pihak tertentu.
E. interpersonal relations model Model ini lahir dari asumsi yang menurut Roger bahwa manusia berada dalam proses perubahan (becoming, dveloping , chaning ), sesungguhnya ia mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan - hambatan tertentu ia membutuhkan orang lain untuk membantu memperlancar atau mempercepat perubahan tersebut .(Nana Syaodih Sukmadinata, 2008: 167 ). Pendidikan juga tidak lain merupakan upaya untuk membantu memperlancar dan mempercepat perubahan ke arah perkembangan . Guru atau pendidik bukan pemberi informasi apalagi penentu perkembangan anak, mereka hanyalah pendorong dan pemelancar perkembangan anak . Roger mengemukakan model ini terdiri dari empat langkah yaitu: . Pemilihan target dari sistem pendidikan, pada langkah ini kreteria yang harus ada adalah adanya kesediaan dari pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif . Selama satu minggu para pejabat pendidikan/ administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana yang relaks , tidak formal. . Partisipasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif . Guru dan pejabat pendidikan bersama - sama mengikuti kegiatan kelompok yang intesif, dari pertemuan tersebut diperoleh hal- hal yang merupakan ide- ide dalam pengembangan kurikulum di lapangan. . Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran. Siswa dilibatkan dalam pertemuan kelompok intensif antara pejabat pendidikan dan guru. . Partisipasi orang tua dalam kegiatan kelompok , artinya orang tua telibat juga dalam kegiatan intensif kelompok tersebut . Model pengembangan kurikulum dari Rogers ini berbeda dengan model- model lainnya . Seperti tidak ada suatu perencanaan kurikulum tertulis, yang ada hanyalah rangkaian kegiatan kelompok .

The systematic action - research model Model ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada : hubungan insana , sekolah dan organisasi masyarakat , dan wibawa dari pengetahuan profesional . Model ini terdiri dari dua langkah yaitu : . Mengadakan kajian secara seksama tentang masalah - masalah kurikulum , berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh , dan mengidentifikasi faktor - faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut. . Implementasi dari keputusan yang diambil dalam tindakan pertama , kegiatan ini segera diikuti oleh kegiatan pegumpulan data dan fakta- fakta. Data - data tersebut berfungsi: menyiapkan data bagi evaluasi tindakan , sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi, dan sebagai bahan unutk menentukan tindakan lebih lanjut . Emerging technical models Perkembangan bidang teknoogi dan ilmu pengetahuan serta nilai- nilai efisiensi efektifitas dalam bisnis, juga mempengaruhi perkembangan model- model kurikulum . Tumbuh kecendrungan -kecendrungan baru yang didasarkan atas hal itu , diantaranya: 1 . The behavioral Analysis Model Menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan . Suatu perilaku/ kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku- perilaku yang sederhana yang tersusun secara hierarkis . Siswa mempelajari perilaku - perilaku tersebut secara berangsur - angsur ,mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks .

2. 1 Disciplinary mastery Merupakan nilai rujukan yang paling tradisional yang menempatkan prioritas utamanya pada penguasaan subject matter. Contoh: model pendidikan gerak (Rink, 2002), model pendidikan kebugaran (Aliance American for Health, Physical Education, Recreation, and Dance, 1999); Teaching Children Games (Belka (1994), dan Sport Education (Siedentop, 1994). 2 Social reconstruction Merupakan nilai rujukan yang menempatkan prioritas utamanya pada penguasaan keterampilan soaial, kerjasama dan kepemimpinan, pada saat sekarang lebih diarahkan pada pemecahan masalah diskriminasiras, tingkatan sosial, gender, physical ability, dan penampilan fisik.
3 The learning process Lebih menekankan pada proses belajar. Nilai rujukan ini didasarkan pada premis yang menyatakan bahwa oleh karena volume pengetahuan yang besar dan perubahan yang cepat akibat teknologi, maka pengembangan keterampilan proses untuk terus belajar sama pentingnya dengan pengembangan keterampilan apa yang dipelajari.
4 Self-actualization Merupakan suatu nilai rujukan yang terpusat pada siswa yang menekankan pada otonomi individu, pertumbuhan individu, dan penentuan arah individu sendiri. Keputusankeputusan pembelajaran difokuskan sekitar untuk membantu siswa meraih potensinya (Jewet, 1994:57).
5 Ecological integration Pada dasarnya menempatkan self-actualization sebagai bagian yang integral dari lingkungan yang selalu berubah secara konstan. Belajar diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain di dalam sebuah lingkungan tertentu untuk membantu siswa menciptakan kehidupan di masa yang akan datang yang akan dilaluinya. dan menurut saya yaitu yang integrasi di padukan dengan disiplinary mastery.